Sunday, 12 July 2015

Menangkap Momentum Emas dalam Mengenalkan Allah Sebagai Pemberi Rezeki Kepada Anak

Disusun oleh: Kiki Barkiah (ibu 5 anak, homeschooler, Ketua Yayasan Al-Kindi Batam)
Menangkap Momentum Emas dalam Mengenalkan Allah Sebagai Pemberi Rezeki Kepada Anak 
(Bab lanjutan ke 2 tulisan Mengenalkan Allah kepada Anak)
Disampaikan dalam kuliah via whatsapp group IIP Kalimantan#2
Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW bersabda, “Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud No. 3745)
Sebagai generasi penduduk bumi di akhir zaman, tentu kita tidak ingin diri kita dan anak kita menjadi sebuah generasi yang digambarkan Rasulullah SAW seperti ini. Dengan mengenal Allah, seseorang akan memahami tentang makna dunia dan bagaimana ia harus memperlakukannya . Dengan mengenal Allah, seseorang akan memahami makna kematian dan bagaimana ia harus menghadapinya. 
Semakin seseorang mengenal Allah, insya Allah semakin terhindar dari penyakit ini.

Salah satu konsep ketuhanan yang harus dipahami seorang manusia agar terhindar dari penyakit wahn diantaranya adalah konsep Allah sebagai pemberi rezeki. Pertanyaannya bagaimana konsep ini dapat kita internalisasikan secara bertahap dalam diri anak sejak dini sehingga mereka kelak memiliki pemahaman dan sikap yang benar terhadap rezeki yang diberikan oleh Allah.
Salah satu metode efektif dalam menginternalisasikan konsep Allah sebagai pemberi rezeki selain melalui teladan sikap dari orang tua adalah melalui refleksi kejadian-kejadian di sekitar anak-anak. Saat kita merasakan kenikmatan maupun kesempitan apa saja bersama anak-anak kita, upayakanlah hal itu senantiasa menjadi kesempatan untuk menggaungkan nama Allah.
Output yang diharapkan dari proses mengenalkan bahwa Allah sebagai pemberi rezeki adalah bagaimana anak-anak memahami bahwa rezeki itu berasal dari Allah, namun dalam pemberiannya Allah memiliki aturan terhadap rezeki yang diberikan kepada kita. Karena rezeki ini adalah pemberian Allah, maka Allah akan sangat senang dan semakin menyayangi kita jika pemberianNya dipakai sesuai dengan aturan yang diberikan Allah serta sesuai dengan tujuan yang diharapkan oleh Allah, yaitu sebagai sarana beribadah kwpada Allah. Perumpamaannya, saat orang tua membelikan hadiah mainan, orang tua pun akan sangat senang dan semakin menyayangi mereka jika mainan digunakan sesuai dengan aturan yang diberikan, dimanfaatkan sesuai dengan tujuan pemberiannya seperti apa yang diharapkan orang tuanya. Konsep inilah yang kemudian menjadi ruh saat kita mengenalkan pemahaman Allah sebagai pemberi rezeki kepada anak-anak kta. Sehingga konsep ini tidak hanya sebatas pengertian atau wawasan namun mampu menggiring mereka menjadi pribadi yang sholih yang dicintai oleh Allah
Beberapa point penekanan materi yang bisa kita sampaikan kepada anak terkait dengan konsep ketuhanan bahwa Allah sebagai pemberi rezeki diantarnya:

1. Anak memahami bahwa rezeki itu berasal dari Allah, sebagaimana Allah berfirman dalam Al-quran. "Katakanlah:" Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi? " Katakanlah: "Allah". "(Saba`: 23)

Contoh metode: Dapat dilakukan dengan senantiasa menggaungkan nama Allah sebagai pemberi rezeki dalam setiap kenikmatan yang kita dan anak-anak kita peroleh. "Alhamdulillah, hari ini Allah kasih rezeki kita ayam goreng lho.... Yuk kita makan yuk!" Misalnya
2. Anak memahami bahwa setiap makhluk telah dijamin rezekinya oleh Allah sehingga tumbuh keyakinan dalam diri anak-anak bahwa rezeki untuknya pun telah dijamin Allah, sebagaimana Allah berfirman dalam Al-quran "Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa)di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)" Q.S Hud ayat 6
Contoh metode: Dapat dilakukan melalui dongeng atau video edukasi tentang rantai makanan pada hewan. Misal, bagaimana cicak yang tidak memiliki sayappun bisa makan lalat yang terbang. Untuk usia anak yang lebih besar bisa menyampaikn kisah tentang Hajar dan Ismail yang ditinggal nabi Ibrahim dalam tanah tandus yang kini menjadi Mekkah.
3. Anak memahami bahwa Allah yang mengurus rezeki semua makhluk dengan sangat terperinci. Bahkan makhluk tidak dapat mengurus rezekinya sendiri. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-quran "Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S Al-Ankabaut 60)
Contoh metode: Misal dapat dilakukan dengan menyampaikan kisah Nabi Sulaiman yang meminta ijin kepada Allah untuk diberikan kekuasaan mengurus rezeki makhluk sejenak, namun ternyata Nabi Sulaiman tidak sanggup melakukannya.
4. Anak memahami bahwa Allah akan menambah rezeki kepada orang-orang yang bersyukur, sebagaimana Allah berfirman dalan Al-quran: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Q.S Ibrahim ayat 7)

Contoh metode: Memanfaatkan momentum emas saat anak-anak mengeluhkan keadaan yang mereka miliki dengan memberikan kisah atau memutar video edukasi yang menggambarkan bahwa masih banyak orang lain yang lebih tidak beruntung darinya. Berikan contoh dan pengertian tentang cara bersyukur kepada Allah baik secara hati, lisan maupun perbuatan.
5. Anak memahami bahwa tidak ada tempat meminta selain kepada Allah karena tidak ada yang mampu memberikan rezeki selain dari Allah. "Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya mereka yang kamu sembah yang lain dari Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan. "Al-'Ankabuut: 17
Contoh metode: Memanfaatkan momentum emas saat mereka memiliki keinginan yang tidak bisa dikabulkan saat itu dengan mengajak mereka berdoa dan meminta kepada Allah. Meskipun pengabulannya melalui orang-orang disekitarnya, pahamkan bahwa itu berasal dari Allah. Jadikan momentum ini sebagai kesempatan menyampaikan kisah tentang bagaimana manusia dulu menyembah dan meminta kepada berhala, memberikan sesaji kepada berhala yang tidak biaa memberikan apa-apa
7. Anak memahami bahwa kita diperintahkan Allah untuk memakan atau menggunakan rezeki yang baik dengan cara yang baik sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Quran “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah. (Al Baqoroh 172)

Contoh metode: Manfaatkan momentum emas saat anak-anak sedang meminta makanan atau barang yang tidak baik. Berikan pengertian tentang kemaslahatan dan kemudhorotan atas keinginannya serta bagaimana Allah menginginkan kebaikan untuk kita. Ceritakan tentang orang-orang yang justru sakit, celaka atau merugi saat ia membelanjakan uangnya dalam hal-hal yang merusak dirinya
8. Anak memahami bahwa kita diperintahkan Allah untuk membelanjakan rezeki di jalan Allah (di jalan kebaikan) sebagaimana Allah berfirman dalam AL-Quran “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa'at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.  (Q.S Al baqoroh 254)
Contoh metode: Manfaatkan momentum emas saat mereka hendak ingin membeli barang yang tidak banyak manfaatnya atau bahkan mengandung kemudhorotan. Ceritakanlah kisah tentang sirah Rasulullah SAW dan para sahabat dalam membelanjakan harta serta bagaimana janji Allah terhadap hal itu.
9. Anak memahami bahwa Allah melarang kita menggunakan rezeki Allah untuk berbuat kerusakan sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Quran “Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu". Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.” (Al baqoroh 60)
Contoh metode: Manfaatkanlah momentum saat anak menggunakan benda di sekitarnya untuk melakukan kerusakan. Ingatkanlah bahwa rezeki itu datang dari Allah dan Allah melarang jika kita menggunakan barang tersebut untuk berbuat kerusakan.
10. Anak memahami bahwa Allah meluaskan dan menyempitkan rezeki pada siapa yang Allah kehendaki. Ada manusia yang ditakdirkan Allah memiliki kelapangan harta, begitu juga sebaliknya. Namun yang lebih utama adalah kesenangan di akhirat, sebagaimana Allah berfirman dalan Al-Quran:
"Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit)” (Q.S Ar rad 26)

"Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya". (Q.S Al isra 30)
Contoh metode: Manfaatkanlah momentum saat anak protes terhadap apa yang ia miliki jika dibandingkan dengan teman-temannya. Ajak ia bersyukur dengan melihat keadaan yang lebih buruk darinya. Namun berikan ia pengertian bahwa kehidupan dunia hanya sebentar, harta akan ditinggalkan, sementara amal sholeh yang memberi kebahagiaan di akhirat lebih berharga.
11. Anak memahami bahwa rezeki manusia juga ditentukan oleh besarnya ikhtiar tanpa memandang kualitas keimanan. Itulah sebabnya banyak orang-orang yang tidak sholih atau bahkan tidak beriman yang rajin dan cerdas bekerja sehingga Allah menitipkan mereka kekayaan.
"Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya" (Q.S An-Najm 39)
Contoh metode: Manfaatkanlah momentum saat mereka malas berusaha, malas belajar atau malas sekolah bahwa hasil yang kita peroleh ditentukan oleh seberapa besar usaha kita. Manfaatkan pula momentum ketika mereka merasa Allah tidak menyayangi mereka karena membandingkan keadaan mereka yang hidup sederhana sementara orang lain yang tidak sholih dapat hidup lebih lapang.
12. Anak memahami bahwa Allah akan memberikan rezeki berupa jalan keluar dari kesulitan bagi orang yang bertakwa.
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, maka Allah akan menunjukkan kepadanya jalan keluar dari kesusahan, dan diberikanNya rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka, dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, nescaya Allah mencukupkan keperluannya.” (Surah At-Talaq ayat 2-3)
Contoh metode: Manfaatkanlah momentum saat anak mengalami masa-masa sulit seperti menghadapi ujian nasional misalnya, untuk senantiasa menjaga dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah serta berserah diri kepada Allah. Ceritakanlah kisah tentang pertolongan Allah dalam sirah Rasulullah SAW dan sahabat saat mengalami jesulitan, misalnya kisah jaring laba-laba di gua hiro

13. Anak memahami bahwa Allah akan memberi tambahan rezeki kepada orang-orang yang berbuat baik dan Allah akan melipatgandakan rezeki bagi irang-orang yang bersedekah.
“Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: "Masuklah kamu ke negeri ini (Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak dimana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah: "Bebaskanlah kami dari dosa", niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu, dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik". Al baqoroh 58
"Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan"
( Q.S Al-Baqoroh 245)

Contoh metode: manfaatkanlah monentum emas saat mereka memiliki keinginan tertentu, ajak mereka berbuat kebaikan karena hal tersebut bisa menjadi jalan yang menyebabkan Allah memberikan apa yang mereka harapkan. Berikan kisah teladan tentang para sahabat Rasulullah SAW yang dermawan seperi Abdurrahman bin Auf. Libatkan mereka dalam kegiatan bersedekah serta ceritakan kisah-kisah orang yang mendapat pertolongan Allah saat mereka telah bersedekah.
14. Anak memahami bahwa mengingkari rezeki dari Allah serta menjadikan rezeki sebagai penyebab menjauh dari Allah akan membuat kita merugi dan celaka, sebagaimana Allah menyampaikan salam Al-Quran tentang kisah qorun.
“Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Karun itu, berkata: "Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambanya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah)". Al qosos 82

Contoh metode: manfaatkanlah momentum emas saat anak-anak menjadi lalai dalam beribadah setelah memiliki mainan baru, saat ia jadi menunda atau bahkan lupa sholat karena keasyikan dengan mainannya. "Eh kalo mainannya bikin kita lupa sholat, bunda jadi teringat kisah qorun deh...."
15. Anak memahami bahwa Allah sangat membeci perilaku mubadzir sebab mubadzir adalah perilaku yang disukai syaitan, sebagaimana Allah berfirman dalan Al-quran, sebagaimana Allah SWT berfirman
“(26) Dan Berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang ada dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghamburkan (hartamu) dengan boros. (27) Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudaranya setan dan sesungguhnya setan itu sangat ingkar kepada tuhannya.” (QS Al Isra : 26-27)
Contoh metode: manfaatkanlah momentum emas saat mereka menghambur-hamburkan air, membuang makanan, atau tidak memanfaatkan mainan yang mereka miliki.
16. Anak memahami bahwa di dalam harta yang Allah berikan ada zakat yang harus dikeluarkan, sebagaimana Allah SWT berfiman 
“Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)”. (QS. Al-Ma’arij: 24-25)

Contoh metode: ajak anak saat kita membayar zakat fitrah, lalu ajak mereka diskusi tentang perintah zakat
17. Anak memahami bahwa Allah sangat mencintai hamba yang mandiri mencari rezekinya sendiri, serta menghindari sikap meminta-minta sebagaimana Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadist
Dari Abi Abdillah (Zubair) bin Awwam Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya, seorang di antara kalian membawa tali-talinya dan pergi ke bukit untuk mencari kayu bakar yang diletakkan di punggungnya untuk dijual sehingga ia bisa menutup kebutuhannya, adalah lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberi atau tidak”. [HR Bukhari, no. 1471].
Contoh metode: manfaatkanlah momentum emas saat anak suka meminta kepada temannya. Ajak anak untuk meminta pada orang tuanya atau bekali ia dengan bekal yang cukup sehingga ia bisa menikmati barang miliknya sendiri dan tidak perlu meminta pada temannya.
18. Anak memahami bahwa semua kenikmatan yang Allah berikan adalah sarana beribadah kepada Allah. Tubuh yang sehat, umur, waktu, adalah bagian dari kenikmatan Allah yang harus digunakan untuk beribadah kepada Allah. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda
“Tidak akan bergeser kaki manusia pada hari kiamat dari sisi Rabnya sehinga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya untuk apa ia pergunakan, masa mudanya untuk apa ia habiskan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan kemana ia infakkan, dan tentang ilmunya apa yang ia amalkan (darinya).
HR. At-Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu. Lihat As-Shahihah, no.946.

Contoh metode: manfaatkan momentum emas saat mereka terlihat bermalas-malasan dan melakukan perbuatan yang sia-sia. Perlihatkan video di youtube tentang orang-orang sholih yang memiliki keterbatasan fisik namun tetap rajin beribadah kepada Allah.
19. Anak memahami bahwa Allah mencintai orang-orang yang hidup bersahaja meski mereka memiliki kekayaan yang cukup untuk hidup bermewahan.
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Q.S Al – A’raf- 31)

Contoh metode: manfaatkan mementum emas saat mereka meminta barang-barang mewah yang belum mereka butuhkan fungsinya. Kisahkan tentang bagaimana kesederhanaan hidup Rasulullah SAW dan para sahabat Rasulullah SAW meskipun mereka memiliki kekayaan seperti kisah kedermawanan dan kebersahajaan Abdurrahman bin Auf.
20. Anak memahami bahwa Allah mencintai orang-orang yang suka berbagi dan berderma, terutama dengan harta yang ia cintai sebagaimana Allah SWT berfirman
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan(yang sempurna), sebelum kamu menafqahkansebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa sajayang kamu nafqahkan, maka sesungguhnya Allahmengetahuinya. [QS. Ali Imran : 92]
Contoh metode: manfaatkanlah momentum saat mereka pelit berbagi atau enggan meminjamkan maianan kesayamgannya atau barang miliknya Kisahkan tentang sirah sahabat yang gemar bersedekah dan melakukan kebaikan meski dalam keadaan sempit. Misal tentang kisah kedermawanan keluarga Ali bin Abi Tholib.


Begitu banyak ayat-ayat Al-quran yang menggambarkan bagaimana seorang manusia harus memperlakukan kehidupan dunia, hartanya, serta semua kenikmatan yang Allah berikan kepadanya yang mungkin tidak mampu dituliskan dalam artikel sederhana ini. Namun intinya bagaimana kita sebagai orang tua harus terus belajar tentang agama islam, sehingga kejadian apapun yang dialami anak-anak dapat menjadi momentum emas dalam mengasah kepekaan jiwanya serta meningkatkan ketakwaan mereka. Namun yang jauh lebih penting adalah pengamalan dari ilmu itu sendiri sehingga dapat memberi teladan kebaikan kepada anak-anak meski kita tidak secara eksplisit menyampaikan dali-dalilnya.
Allahu'alam
San Jose, California
Sang Penjelajah Hikmah

Unknown

About Unknown

Author Description here.. Nulla sagittis convallis. Curabitur consequat. Quisque metus enim, venenatis fermentum, mollis in, porta et, nibh. Duis vulputate elit in elit. Mauris dictum libero id justo.

Subscribe to this Blog via Email :